Sultanking: Tantangan Tari Kontroversial yang Menghebohkan Internet


Dalam beberapa minggu terakhir, tantangan menari baru telah menghebohkan internet dan menyebabkan kehebohan. Tantangan tersebut, yang dikenal dengan nama Sultanking, telah memicu kontroversi dan perdebatan di kalangan pengguna media sosial. Beberapa orang memujinya sebagai tren yang menyenangkan dan menghibur, sementara yang lain mengkritiknya karena kontennya yang berpotensi menyinggung dan tidak pantas.

Tantangan Sultanking melibatkan peserta menari mengikuti lagu populer sambil mengenakan pakaian tradisional Arab, seperti kandura atau hijab, dan melakukan gerakan-gerakan yang mengingatkan pada gaya tari Timur Tengah. Gerakan tariannya sering kali melibatkan goyangan pinggul, gerakan memutar tubuh, dan gerakan tangan yang umumnya diasosiasikan dengan tarian Arab.

Tantangan ini mendapatkan daya tarik di platform seperti TikTok dan Instagram, dengan ribuan pengguna mengunggah video dirinya mencoba menari. Beberapa bahkan membuat tutorial dan koreografi untuk diikuti orang lain.

Namun, tantangan Sultanking juga mendapat reaksi keras dari beberapa anggota komunitas Arab, yang berpendapat bahwa tren tersebut tidak sensitif dan tidak sesuai dengan budaya. Mereka berpendapat bahwa gerakan tarian dan pakaian yang digunakan dalam tantangan ini disalahartikan dan dijadikan karikatur, sehingga melanggengkan stereotip yang merugikan tentang budaya Arab.

Ada juga yang mempermasalahkan nama tantangan itu sendiri, karena “Sultan” adalah gelar yang secara historis digunakan oleh para penguasa di Timur Tengah dan Asia, sehingga menimbulkan tuduhan perampasan budaya dan rasa tidak hormat.

Terlepas dari kontroversi seputar tantangan Sultanking, banyak peserta yang tetap mempertahankannya sebagai kesenangan yang tidak berbahaya dan sebagai cara untuk merayakan dan mengapresiasi budaya Arab melalui tarian. Beberapa orang bahkan menyatakan bahwa pertukaran dan perpaduan budaya adalah hal biasa dalam dunia tari, dan tantangannya adalah bagaimana cara berbagi dan merayakan gaya dan tradisi yang berbeda.

Seperti halnya tren viral lainnya, tantangan Sultanking telah memicu perbincangan yang lebih luas mengenai perampasan budaya, representasi, dan sensitivitas di era digital. Hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun media sosial dapat menjadi alat yang ampuh untuk berbagi dan terhubung, penting juga untuk mempertimbangkan dampak dan implikasi dari konten yang kita buat dan konsumsi.

Pada akhirnya, suka atau tidak suka, tidak dapat disangkal bahwa tantangan Sultanking telah memberikan dampak yang signifikan di internet dan memicu diskusi penting tentang perampasan dan representasi budaya. Suka atau tidak suka, tantangan Sultanking tentu menjadi tren yang patut diwaspadai.